Enjoy read :D
Oleh : Asita Almufidah (IX-D/30)
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu, whoo ..
Saat kau di sisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu ..
Anugrah terindah yang pernah kumiliki ..
Allyssa meneteskan air matanya tuk yang kesekian kali saat mendengar rekaman suara itu. Emosinya sangat susah dikendalikan bila ia sudah mendengar alunan suara indah dalam rekaman tersebut. Separuh jiwanya seakan hilang saat ia mendengarkan irama dalam lagu itu. Ya, lagu itu sangat menggambarkan ungkapan hatinya.
“Mario , aku kangen kamu .. ! Aku pengen kamu ada disini.” Ucap Alyssa sambil menerawang, entah apa yang dilihatnya. Namun, hanya 1 yang dibayangkannya ..
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
10 tahun lalu ..
Pagi itu masih sepi, hawa terasa begitu sejuk, embun pagi seakan enggan menguap dari daun hijau segar, kicau burung terdengar nyaring bersemangat.
“Ayo Mario !! kejar aku !! Hahaha.” teriak Alyssa.
“Ish ! Awas ya kalo ketangkep !!” Mario pun mengejarnya.
“Cemen ahh !” kata Alyssa sambil menjulurkan lidahnya.
Begitulah 2 sahabat itu selalu menghabiskan waktunya bersama. Mereka selalu kompak dalam segala hal. Saling membantu dan jarang sekali terlibat pertengkaran antara keduanya. Mereka adalah Mario dan Allysa. 2 orang sahabat yang tinggal di sebuah panti asuhan. 2 orang sahabat yang sangat tegar menghadapi segala masalah.
“Hahaha .. masa’ gitu aja nyerah , kalah donk ma aku !” ejek Allyssa sambil mengacungkan jempolnya ke bawah.
“Gak akan aku nyerah ma kamu!” teriak Mario tak kalah.
Alyssa masih terus saja berlari, sedangkan Mario, ia sudah terengah-engah. Hingga saat sedang asyik kejar-kejaran , tiba-tiba ..
“Mario .. bangunn .. !! Kamu kenapa ? kok jadi pucat gini ?” Allyssa kaget setelah mendapati sahabatnya itu terkulai lemas.
“Bunda Wiwinn , Bunn .. !! teriak Allyssa tergesa-gesa.
“Ada apa sayang ? Lho, kok nangis ?” Tanya bunda Wiwin selaku ibu panti dengan lembut.
“Mario bu !! Mario !! Tadi jatuh terus ga sadar, Alyssa takut bu !” Alyssa terisak.
“Apa ? Sekarang mana Mario ?” Tanya bunda Wiwin, panik.
“Di halaman.” kata Alyssa sambil berlari ke arah halaman.
Dalam keadaan panik itu, Mario segera dibawa ke puskesmas terdekat. Semua tampak cemas menunggu di luar ruangan periksa.
“Semua ini gara-gara aku, Bun, aku yang ajak Mario kejar-kejaran gini. Aku ga akan maafin diri aku kalo Mario kenapa-napa.” sesal Alyssa.
“Sayang, kamu ga boleh gitu. Ga ada yang salah kok. Ini musibah sayang. Dan percaya sama bunda, Mario ga akan kenapa-napa.” Ujar bunda Wiwin
“Tapi .. ”
Belum selesai Alyssa bicara, dokter keluar dari ruangan periksa Mario.
“Dokter, Mario gimana ?” tanya Alyssa tak sabar.
“Dokter, gimana keadaan putra saya ?” tanya bunda Wiwin.
“Nak, Mario ga papa, ia hanya kecapekan.” jawab dokter pada Alyssa.
Alyssa tersenyum lega mendengar jawaban dokter, namun ia masih belum puas akan jawaban itu. Terlalu ganjal bagi Alyssa.
“Untuk ibu, boleh saya berbicara sebentar ?” tanya dokter
Bunda Wiwin hanya membalas dengan anggukan, tanda setuju. Diam-diam Alyssa mengikuti bunda Wiwin dan dokter. Otaknya tidak bisa menjawab rasa penasarannya sehingga ia memutuskan untuk membuntuti keduanya, walau ia tahu, mungkin itu adalah hal lancing.
“Bagaimana dok, apakah Mario benar-benar dalam keadaan baik ?” tanya Bunda Wiwiwn
“Begini ibu, Mario ternyata mengidap penyakit leukimia, sehingga ia tidak bisa me-lakukan pekerjaan terlalu berat, saya himbau agar Mario tidak terlalu capek. ” Ujar dokter itu.
Guratan kekecewaan dan kesedihan sangat terlihat dalam raut wajah bunda Wiwin.
“Apa semua ini akan baik-baik saja ? Apa bisa sembuh, Dok ?” sambung bu Wiwin.
“Leukimia ? Apa itu ? Parahkah itu ?” berbagai pertanyaan muncul begitu saja di benak Alyssa saat mendengar kata asing itu.
“Semua akan baik-baik saja, asalkan Mario tidak terlalu lelah dan kita bisa menjaga kesehatannya dengan baik. Saya tidak bisa menjamin apa penyakit ini bisa sembuh atau tidak, tapi kami akan membantu agar Mario bisa sembuh.” Ujar dokter kemudian.
“Aminn .. Dok, saya mohon agar Alyssa tidak mengetahui hal ini. Dia pasti akan sedih melihat kenyataan ini” pinta Bunda Wiwin.
“Baik, kalau itu terbaik untuk mereka”. jawab dokter.
“Ya sudah, saya permisi dok, mau jenguk Mario dulu.” pamit bunda Wiwin.
Alyssa segera berlari ke tempat asal agar bunda tidak curiga dirinya sejak tadi mendengar pembicaraan bunda dengan dokter.
“Apa kata dokter, bun ?” tanya Alyssa berpura-pura.
“Rio hanya butuh istirahat ”
“Kita jenguk Mario yuk, bun !” ajak Alyssa
Alyssa dan bunda Wiwin masuk ke ruangan rawat Mario. Mario pun juga sudah sadar.
“Mario , kamu buat aku khawatir deh.” Alyssa lega melihat Mario sudah sadar.
“Maaf ya, kenapa ? kamu takut kehilangan aku ya ?” narsis Mario.
“Ihh , yaiyalah, kamu kan sahabat aku yang paling baik.” Balas Alyssa dengan senyuman manjanya.
“Emang aku kenapa ?” tanya Mario.
“Maaf, aku tadi ajak kamu lari-lari, kamu jadi capek.” jawab Alyssa dengan senyum terpaksa karena pikirannya kembali menerawang ada satu kata ‘leukemia’.
“Sa ? kenapa?” panggil Mario mengagetkan Alyssa.
“Eh, ga papa. Maaf ya.”
Mario hanya membalas dengan senyuman.
Bu Wiwin yang melihat kejadian itu hanya tersenyum geli. Beliau tidak menyangka, begitu erat hubungan keduanya.
Setelah kejadian itu, mereka tidak pernah kejar-kejaran lagi walaupun Mario yang mengajak Alyssa kejar-kejaran, namun Alyssa segera menolaknya, takut kejadian itu terulang.
Kini, sudah 10 tahun kejadian itu berlalu. Masing-masing dari mereka juga sdah mengetahui penyakit yang mengancam jiwa Mario.
“Mario !! Balikin kotak pensilnya !! Itu buat tugas tau !!” Mario yang sudah mulai lupa kejadian 10 tahun lalu terlihat kejar-kejaran lagi.
“Tangkap donk kalo bisa !!” Jail Mario sambil berlari.
“Mario ! Aku ga mau kejar-kejaran, capek ahh !” alasan Alyssa.
“Sekali-kali aja, aku kangen kita kejar-kejaran gini, please kejar aku!” mohon Mario.
Tiba-tiba saat asyik berlari-larian, kejadian itu .. kejadian yang membuat Alyssa trauma akan lari .. kejadian yang sulit sekali terlupakan oleh Alyssa selama 10 terakhir ini. Mario kembali tak sadarkan diri. Alyssa segera berlari mendekati Mario dan menggoyang-goyang badan Mario.
“Mario .. !!! Bangun ! Aku udah bilang kan, aku ga mau kejar-kejaran ! Mariooo ! huhuhu” Tangis Alyssa kembali meledak.
Di rumah sakit,
“Alyssa, ke taman yuk !! Aku mau kasih kamu sesuatu lho !!” ajak Mario.
“Gak, kamu masih lemah, aku ga mau kamu kenapa-napa.” tolak Alyssa.
“Aku ga mau kamu kayak gini lagi buat yang ketiga kalinya, kamu dipasang infuse, kamu terbaring disini, aku ..”jelas Alyssa panjang lebar namun dipotong oleh Mario.
“Ssssttt .. aku janji .. Ini yang terakhir aku masuk rumah sakit ini.”
“Ayo donk !! please !!” lanjut Mario memohon.
“Ya deh, demi sahabat terbaikku.” Alyssa menyerah.
“Lho, kok bawa gitar ?” Tanya Alyssa
“Udah deh ikut aja!” kata Mario sambil memamerkan senyum termanisnya.
Di taman rumah sakit,
“Sa, dengerin lagu ini baik-baik ya, mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa nyanyi buat kamu, jadi kalau mau ngrekam suaraku buruan deh.” Ujar Mario bercanda, namun terdengar sangat serius di telinga Alyssa.
“Ahh.. Mario apaan sih ? Aku ga suka kamu ngomong kayak gitu !” bentak Alyssa.
“Hehehe.. Ga papa kok, siap ya ?!”
Melihat tawamu, mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku, warna-warna indahmu
Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu, Anugrah terindah yang pernah kumiliki
Sifatmu nan slalu, redakan ambisiku
Tepiskan khilafku, dari bunga yang layu
Saat kau disisiku kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu, Anugrah terindah yang pernah kumiliki
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu, oo
Sifatmu nan slalu redakan ambisiku
Tepikan khilafku dari bunga yang layu
Saat kau di sisiku, kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu, Anugrah terindah yang pernah kumiliki
“Kamu itu anugrah terindahku, Sa. Sahabat terbaikku, saudaraku, segalanya deh .. Makasih ya, udah jadi bintangku.” Mario mengungkapkan perasaannya.
“Mario .. kamu apaan sih ? kok jadi mellow gini?”
“Gapapa pengen aja, aku kan belum pernah ngungkapin semua buat kamu.” Kata Mario gombal.
“Oh ya, ini aku gambar kamu.” Kata Mario seraya memberikan gambar itu yang sejak tadi disembunyikan.
“Wahh .. bagus ! Kapan kamu gambarnya ?” Tanya Alyssa berdecak kagum
“Waktu kamu lagi sibuk buat kotak pensil itu, aku iseng-iseng gambar kamu, hhe.” Jelas Mario.
“Iya, makasih banyak ya gambar dan lagunya .. Kamu juga udah jadi sahabat, saudara, teman, sagalanya yang terindah kok buat hidup aku. Tanpa gambar dan lagu ini aja, tanpa kamu ucap terima kasih pun aku tetep sayang sama kamu, karena kamu udah buat banyak warna dalam hidupku.” Alyssa tersenyum manis sekali.
Beberapa saat mereka saling terdiam
“Sa, minta tolong ambilin air putih donk, haus nih abis nyanyi.” Pinta Mario
“Bentar ya.” Ujar Alyssa
Di saat Alyssa mengambil air putih itu, Mario sempat menulis “Mario dan Alyssa sahabat selamanya”. Lalu ia merasa pandangannya berkunang-kunang dan tak sadarkan diri. Alyssa yang baru datang langsung kaget dan memberitahukan pada dokter.
Setelah beberapa menit Alyssa mondar-mandir, dokter keluar dari ruang UGD.
“Bagaimana keadaan Mario, dok ?” tanya Alyssa tak sabar.
“Ada keluarganya ?” tanya dokter.
“Saya perwakilan keluarganya, Dok !” Alyssa sudah benar-benar tak sabar.
“Maaf dek, kami sudah berusaha, namun ia ..” kata-kata dokter terpotong.
“Dokter, saya ga butuh candaan dokter sekarang !” Alyssa sedikit membentak.
“Saya sedang tidak bercanda, saya serius, kami sudah berusaha untuk mengembalikan kondisi Mario, namun Tuhan berkehendak lain, Mario terlalu sayang Mario.” ujar dokter selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaan Alyssa.
“Maksud dokter ?” tanya Alyssa ragu-ragu.
“Mario telah tiada.” jawab dokter takkuasa menatap mata Alyssa.
“Nggaaaakkk, dok !! Mario ga mungkin ninggalin aku.” Alyssa menangis sejadinya, tak percaya.
Alyssa sungguh sangat kehilangan Mario, sosok sahabat, kakak, yang sangat disayanginya. Ia tidak percaya akan keadaan ini. 3 hari ia tak keluar kamar, ia sangat terpukul. Hingga pada malam ketiga Alyssa yang sedang kalut melihat Mario dengan kedaan baju serba putih. Hal it terlihat sangat nyata namun sangat melampaui batas nyata.
“Sa, maaf ya.. Aku tingalin kamu dulu. Rekaman, gambar, dan tulisan itu khusus aku persembahin buat kamu, kenang-kenangan dari aku. Simpan ya . Makasih uda buat terang hidupku, aku akan tetap menganggapmu sahabat terbaikku. Ikhlasin aku, biar aku tenang, jangan nangis lagi. Kalau kamu kangen, putar aja rekaman suara itu. Aku akan tetep sayang kamu.” Kata bayangan itu sambil tersenyum.
“Mario ..!” suara Alyssa tercekat.
Alyssa yang masih tak kuat dengan semuanya tak kuasa menahan tangis.
“Mungkin aku ga akan bisa lupain kamu, Yo. Karena kamu selalu ada di hatik dan fikiranku. Mungkin aku akan menangis setiap aku ingat kenangan kita. Tapi aku janji, detik ini, besok, dan selamanya, senyumku kupersembahkan untukmu, Mario, sahabat terbaikku.!!” Janji Alyssa.
___________________________________________________________________________
“Sa, ayo makan dulu, nak !!” panggil Bunda Wiwin membuyarkan lamunannya.
“Iya, Bu.” Setelah menyeka air matanya, Alyssa segera memenuhi panggilan itu.
“Sayang, kenapa ? Kamu nangis lagi ?” tanya Bunda Wiwin melihat mata Alyssa yang merah.
“Gapapa, bu ..aku Cuma inget Mario.” Kata Alyssa sembil tersenyum, walau saat itu terasa berat.
‘Sa, Mario udah tenang disana. Kan kamu udah janji selalu tersenyum buat dia. Dia pasti lebih senang liat kamu tersenyum.” Ingat Bu Wiwin.
“Iya bu, tapi Alyssa ga kuat kalo inget semua tentang kita. udah ah bu .. Kok malah sedih-sedihan, makan dulu yuk !!” ajak Alyssa yang sadar dirinya sedikit menghambat makan malam saat itu.
- TAMAT -
.sita keren bgt cerpennya.
BalasHapus^^
Wew ? Makasih Gina udah dibaca :D
BalasHapusKeren apanya ? Jeleeek -___-"