Kamis, 24 Februari 2011

DIA BUKAN HANYA IMPIAN

Hhee , saya kembali lagi membawa 1 cerpen (jelek dan geje) made in saya sendiri (?)..
happy read , hope u enjoy with it :p


DIA’ BUKAN HANYA IMPIAN

Jantungku meloncat seolah ingin keluar ketika melihat sosok itu. Sosok yang beberapa minggu ini selalu melayang-layang di pikiranku. Tubuh kurus tingginya dan rambut acak-acakannya terlihat sangat keren di mataku. Berkali-kali aku melihatnya namun tak pernah terbesit rasa bosan dalam hati, pikiran, dan mataku. Seolah mereka dengan senang hati bekerjasama denganku untuk makhluk yang sedang memainkan bola di bawah sana. Makhluk Tuhan yang untuk pertama kalinya mampu membuatku tak berkedip dan selalu ingat apapun yang dikerjakannya. Kali ini, walau jarak antara kami cukup jauh, namun senyumannya sukses membuatku salah tingkah. Ya, kini dia berada di lapangan basket sedangkan aku di lantai 2 sekolahku. Aku sedang menatapnya atau lebih tepat memandangnya seolah itu pemandangan sunset yang selalu membuat tiap orang berdecak kagum. Gerakan kaki dan tangannya yang lincah menambah kekagumanku pada dia. Aahh .. kapan aku bisa memiliknya ? tanyaku dalam hati. Yahh, walaupun hanya khalayalan, toh .. tak ada yang melarang. Belum puas aku berkhayal saat itu, tiba-tiba ..
“Hayo.. Via .. senyum-senyum ngapain tuh ?”
“Akhh , Shilla .. ngagetin aja sih.” Ujarku sambil sedikit memperlihatkan kekesalanku.
Ya , dia sahabatku, Ashilla Zahrantiara, anak yang cantik,baik,pintar,namun memiliki tingkat kejailan yang di atas rata-rata.
“Hehe..maaf .. kamu aku cariin kemana-mana tau, ekh taunya lagi ngayal disini.” Shilla memberi alasan .
“Huuu..biarin, yang penting kan seneng.”
“Udah ah ayo .. bosen juga ngliatin bola,selalu aja 1 bola buat rebutan.” Ajak Shilla.
“Huft !! Ni anak ganggu aja sih.” Batinku, sedikit kesal sih dengan Shilla.

Memang Shilla sengaja belum kuberitahu soal rasaku ini. Aku mau kasih surprise ke Shilla tentang hal ini. Jadi, aku ga mau buru-buru kasih tau ke Shilla. Oiya, namaku Sivia Azizah .. Ya seperti kalian ketahui, aku lebih sering dipanggil Via oleh teman-temanku. Aku kelas 8 di SMP Bintang Umum (?) ini.

“Vi, tadi kamu ngliatin apa sih ? Kok sama senyum-senyum geje gitu ? Hayooo .. naksir anak basket yaa ? wahh , Via nih ga seru, ga pernah cerita. Ayoo !! Cerita cerita !!” Cerocos Shilla sebelum aku menjawab satu pun pertanyaannya.
“Ikh , nggak kok .. Tadi tu senyum gara-gara liat itu si Riko kepleset. Iya bener gitu.” Jawabku sedikit gelagapan.
“Ohh, kirain lagi naksir , awas ya kalo naksir anak tapi gak cerita.” Ancam Shilla sedikit menyindirku.
“Hha .. beres kawan.” Ucapku menutupi semuanya dan berharap Shilla ga curiga dengan surprise ini.
“Tapi surprise dalam rangka apa ya ?” Batinku, bingung juga. “Elah .. gampang deh ntar gimana, yang jelas aku sekarang mau mendam perasaan ni sendiri dulu.”
Malam ini bintang-bintang terlihat asyik bercengkrama di atas sana. Aku bisa melihat itu dari balik jendela kamarku. Sepoi angin pun terasa sedikit menusuk ke pori-pori. Namun, tidak sedikitpun aku terusik oleh keadaan ini. Malah semakin lebar aku membuka jendela kamarku. Indah, bahkan sangat menarik untuk dilihat memperlihatkan betapa besar keagungan Tuhan. Di tengah sedang melihat bulan dan bintang pentas di atas sana, aku pun tengah memikirkan bintangku yang lain. Yaaa.. Siapa lagi kalo bukan Mario Stevano Aditya, seorang anak sebayaku yang kini bayangannya tengah berputar-putar bagai rekaman di dalam otakku. Sedikit kusunggingkan senyumku saat mengingatnya.
“Rio..Rio..Rio..hmfth!! I like you, boy.”
Keesokan paginya di sekolah aku sedang celingak celinguk mencari Rio. Namun bukan Rio yang kudapat, malah si Shilla dengan PDnya datang dan menyapa
“Pasti celingak celinguk nyari aku deh, hhe.” PD Shilla
“Geer ikh .” sambil melengos meninggalkan Shilla.
“Kebiasaan ! Vi, tunggu !!” teriak Shilla

Lagi lagi dan lagi lagi aku sedang berdiri di lantai 2 sekolahku sedang memperhatikan Rio. Kali ini tanpa kostum dan bola basketnya, Rio tampak lebih pendiam. Ia tengah bercengkrama dengan teman-teman timnya. Yah, maybe dia sedang membicarakan basket, atau apa. But it’s unimportant for me, karena sekarang melihat senyum khas Rio lah yang kucari. Deg .. tanpa disangka dan diduga, tatapan mata kami bertemu. Aku tak bisa berkata-kata, bahkan senyum yang biasa aku sungingkan saat membayangkannya pun tak terbentuk di sudut bibirku. Terlalu gugup ! Segera aku mundur dari tempatku berada dan berlari menjauh. Merah padam atau apa pasti sudah tergambar jelas di wajahku. “Via odong!! Napa malah salting sihh” rutuku dalam hati.
Setiba di kelas,
“Via .. aku punya cerita, kayaknya aku mulai suka anak disini deh.” Curhat Shilla
“Sapa sapa ?” tanyaku tak sabar, dan berdoa bahwa yang disuka Shilla bukan Rio.
“Yang jelas dia anak basket.” “Waduhh..”batinku
“Cakepp.” “Jangan diaa..” aku tetap membatin
“Senyumnya khas banget..Aaaa..melty bangett.” “jelas deh, sainganku sahabatku.”
“Selamat ya Shil, perjuangin rasamu itu.” Kataku seolah aku mendukung.
“Thanks Vi, kamu cari juga donk!! Hhe .”
“Cari ? Emang kamu kira barang.” Ujarku sambil melengos
“Tuh kan , kebiasaanya muncul lagi.” Keluh Shilla

“Aku harus berjuang ngilangin perasaan ini. Aku harus bisa. Aku gak mau sahabat sebaik Shilla sakit karena aku. Baru suka, udah ada tandingan .. Gak papa deh. Demi Shilla aku bakalan nyoba. Semoga gak susah.” Tekadku dalam hati
Hari demi hari aku coba buat ngilangin rasa itu, tapi bukan malah pergi, bayangan Rio yang selalu tergambar itu malah selalu muncul. Shilla yang sekarang jadi sering curhat pun juga malah ngingetin pada semuanya.
“Tuhann.. Aku emang sayang Mario, tapi aku gak mau sahabatku terluka. Kalo memang ini yang terbaik, aku rela .. Hapus semua tentang Mario dalam pikiranku.” Lagi-lagi aku hanya membatin saat Shilla tengah bercerita.
“Iya Vi .. dia di kantin juga sempat eyecontact ma aku, Vi. Seminggu suka sama dia, ada eyecontact..blabla” Curhat Shilla.
Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar penjelasan itu. Penjelasan yang membuat aku jauh lebih sakit karena penjelasan itu. Secara tidak langsung mejelaskan bahwa ‘dia’ memberi sinyal positif pada Shilla.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Tuhan .. bantu aku hapus memorinya dalam hidupku. Aku ga akan kuat mendengar semua curhatan Shilla kalo begini keadaanya.” Batinku sambil meneteskan butiran air dari mataku, sebenarnya aku ga pingin menangis tapi semuanya tak bisa kutahan lagi. Aku hanya berharap semoga memori dan perasaan tentangnya hilang bersama air mata ini.
Drrt Drrt
1 new message from : Shilshil
Via , lagi ngapain nih ? Vi, bsok aku mau curhat yah ;)

Pasti tentang dia. Akhh , ingin sekali kumenolak saat ini. Tapi apa boleh buat, salahku sendiri sih kenapa gak dari dulu kasih tau ke Shilla bahwa aku juga punya rasa yang lebih ke ‘dia’. Segera ku balas sms Shilla dengan sedikit berat hati.
To : Shilshil
Ya !

Kicau burung pagi ini terdengar lebih bersemangat dari biasanya. Rasa malas dan kantukku pun masih bersahabat erat seolah menantang burung-burung itu. Apalagi saat teringat bahwa hari ini aku harus kembali mendengar semua cerita Shila beserta sinyal positif ‘dia’. Namun, kewajiban sekolah harus tetap terlaksana, aku segera bangkit dari kasur bersprei doraemonku dan mandi.
“Uukh !! Napa harus gini sih klimaksnya !” Gerutuku sambil menguncir rambutku menjadi ekor kuda.
Dengan langkah malas aku memasuki gerbang sekolah. Senyumku pun ikut bersembunyi dalam tekukan wajahku. Kulihat Rio sedang berkumpul bersama teman-temannya sambil memainkan bola. Beberapa detik mataku menatap wajah sawo matangnya hingga dia mungkin merasa dan balik menatapku sambil tersenyum, bola yang tadi dimainkan pun menggelinding cukup jauh. Sedetik kemudian aku tersadar dan segera mempercepat langkahku menuju kelas.
“Senyumnyaa..aah , melty kan aku.”ucapku pelan, mungkin tak ada yang mendengar.
Di kelas sudah cukup ramai, Shilla pun sedang asyik mendengarkan musik dari i-podnya. Ketika melihat aku, dia langsung tersenyum dan melepas headset yang dari tadi menghibur pendengarannya.
“Hai Vi, datang juga akhirnya. Lama banget sih ! Katanya jam 1-2 kosong juga, jadi aku bisa cerita semuanya sama kamu.” Senyum manisnya seolah menggambarkan hatinya saat ini.
“Iya, cepet ceritanya !” Jawabku sambil tersenyum kecut atau mungkin lebih tepatnya senyum terpaksa.
“Yaa tersinggung dia .. gini, aku seneng banget nih.” Shilla mengawali curhatnya.
“Dah kliatan dari muka kamu!” ujarku cuek, dan segera meralat jawabanku ketika aku sadar ekspresi Shilla berubah mendengar jawaban sinis dariku.
“Eeh , maksudnya yaa aku tau kamu seneng makanya cepetan curhatnya, penasaran nih.”
Lega hatiku saat kulihat ekspresi Shilla balik seperti awal dan moodnya gak rusak gara-gara ucapanku tadi.
“Iya deh, kemaren dia bilang kalo dia juga suka aku. Kyaa !! senangnya !!” Jelas Shilla.

Jderrr !! Bagai disambar petir. Hatiku sakit, sakit sekali. Mengapa telah sejauh ini Shilla sama Rio. Dan kalo Rio benar suka sama Shilla, apa arti senyumannya tadi ? Apa dia hanya ingin mempermainkan hati Shilla atau mungkin aku yang terlalu geer ? Tak terasa butiran bening keluar dari kelenjar mataku, ya aku MENANGIS. Untungnya, Shilla yang sedang asyik bercerita tak sadar bahwa aku menangis, sehingga saat dia tengah menarik nafas saat bercerita, aku ijin ke kamar mandi. Di kamar mandi, aku membiarkan kelenjar mataku bekerja dengan sesuka hati, terlalu sakit. 15 menit kemudian, setelah aku puas mengeluarkan rasa sakitku bersama air mataku, aku membasuh mukaku untuk menyamarkan bekas tangisan di sekitar mataku. Saat kembali ke kelas, tak ayal Shilla langsung bertanya macam-macam padaku.
“Vi, darimana aja sih ? Ke kamar mandi lama banget ?” damprat Shilla
“Sorry sayang, tadi ada Irva jadi ngobrol bentar.” Jawabku
Shilla hanya manggut-manggut mendengar jawabanku.
“Yaps ! Jawaban yang tepat !” ujarku dalam hati

Beberapa hari telah berlalu, kesibukanku latihan vocal tiap hari sedikit banyak bisa jadi obat untuk melupakan masalah ini. Shila yang beberapa hari ini juga tidak cerita tiba-tiba bertanya padaku.
“Via , aku harus jawab apa nih ke dia ?”
“Emang nanya apa Shil ?” sahutku smbil membereskan buku
“Dia nanya, aku mau jadi pacarnya gak ?” ucap Shilla ragu
Aku yang sudah bisa menetralisir emosiku saat ini, bersaha memberi solusi pada Shila, walau perih itu masih terasa.
“Terima aja Shil kalo kamu emang dah yakin ma perasaanmu.”Kali ini dengan senyuman tanpa paksaan yang tersungging di wajahku.
“Oke, Vi .. Makasih”

“Ternyata bener, Rio emang sayang ma Shila. Rio ga ada rasa apapun sama aku. Selamat ya Shil, moga kamu sama Rio bisa bahagia. Apapun yang terjadi kamu tetep sahabatku Shil, dan Rio kamu pangeran impianku.” Aku berbicara sendiri malam itu, tentu saja sambil memandang ke arah bintang-bintang di atas sana yang memberi kehangatan tersendiri untukku.

Di kelas, terdengar teman-temanku sibuk koor menyoraki Shila. Kali ini aku bisa lebih tersenyum melihat sahabatku itu digoda teman sekelas.
“Via .. !!” Sapa Shilla dengan semangat.
“Hai !! Mana nih pangerannya ?” godaku ikut-ikutan.
“Apa-apaan sih, Vi ?” Shilla pura-pura memanyunkan bibirnya.
“Hehehe , ga ada traktiran nih ?”tanyaku
“Emm , gimana yaa ?” Shilla pura-pura berfikir

Pulang sekolah, Shilla tampak terburu-buru. Maklumlah pasangan baru.
“Vi, ak duluan ya.. Ada janji.”
“Oke !” sahutku, tanpa menoleh.
Dari sini, dari lantai 2 sekolahku kulihat Rio sedang memainkan bola, keliatannya sih sedang menunggu seseorang.
“Pasti nunggu Shila.” Pikirku menyimpulkan sendiri.
Aku bergegas turun ke lapangan, lantai 2 sdah mulai sepi. Namun, tak jauh dari tempatk berdiri, kulihat Shilla dan ALVIN bersenda grau. Shilla ? Bukankah dia ada janji dengan Rio ? Kok sekarang sama Alvin ? Tidakkah dia pikir, Rio tengah menunggunya di lapangan, kenapa mereka malah ..”
“Hy Vi !!” sapa Shilla
“Shila ! Lo tega banget sih ?! Shil, inget lo ada janji sama Rio ? Gak sadar lo dia nunggu lo di lapangan ?! Apakah ada penghianatan di antara kalian bertiga ?! Gue gak nyangka kalian gitu !! ” cerocosku emosi hingga mengganti kata ak-kamu menjadi lo-gue yang jarang sekali kuucapkan.
“Vi ?” Shilla masih memandanku tak percaya
“Apa ? Jahat lo Shil !! Gue korbanin perasaan gue ke Rio demi LOE ! demi LOE SAHABAT GUE YANG MENGECEWAKAN !!” ucapku sinis sambil berlalu.
“Via tunggu !! Kamu belum tau yang sebenarnya.” Shila mencegahku
“Apa ? udah jelas kan ?!”
“Via , gue jadian tuh ma ALVIN BUKAN RIO !!” menekankan kata Alvin bukan Rio
Aku menghentikan langkahku dan berbalik arah.
“Kamu dan kamu ?” sambil menatap Alvin dan Shila bergantian
“Ya .. Kita” ucap mereka berbarengan
“Waduhh, malu banget gue. Pasti kayak tomat deh ni muka, bzzz~ !!” batinku menahan malu.
“Rio ! Sini ! Nih ada yang nungguin!” Alvin memanggil Rio sambil melirikku.
Aku menaikkan sebelah alisku, tak mengerti.
Rio tersenyum ke arah Alvin dan Shilla. Lalu menatapku dan membisikkan satu kalimat yang mampu membuat duniaku berputar 1800 “I LOVE YOU” ucapnya. Muncullah semburat merah pada wajahku saat itu juga. Aku dapat merasakannya walau aku tak dapat melihat pantulan wajahku saat ini.
“LOVE YOU TOO” balasku masih menundukkan kepala.
“Ehem .. Jadian nih ?” Shilla dan Alvin menggoda
“Mau Vi ?” Tanya Rio
Tanpa pikir panjang, aku menganggukkan kepalaku tanda setuju. Saat itu, aku berharap ini bukan mimpi, dan ini memang NYATA. Bagai 2 orang yang baru menemukan pasangannya, kami berempat tertawa dan bersukacita.
“Haha .. Kalo dilihat tadi expresi Via waktu marahin kita lucu yaa ?” Shilla sukses membuat wajahku berwarna tomat sekarang.
“Apaan sih, Shil ?! malu-maluin aja!” balasku, manyun.
“Yee , kita tuh sebenernya tau kali Vi kalo kamu suka Rio, dan Rio juga suka sama kamu. Dan selama ini Shila kan jga belom pernah bilang kalo ‘dia’nya it aku, kamunya aja yang cepet-cepet buat kesimpulan sendiri.haha” ejek Alvin padaku
“Ihh , nyebelin deh kalian !!” sambil melipat kedua tanganku di depan dada
“Aduuhh..Via ..yang diomongin Alvin tu bener banget, Shilla kan gak pernah bilang kalo ‘dia’nya itu Alvin. Bodoh bodoh !! Anak basket, cakep kan gak hanya Rio. Dan surprisemu itu telah berbalik arah.” Aku merutuki diriku sendiri sambil mengetuk-ngetukan tanganku ke kepala.
“Kenapa Vi ? omongannya Alvin bener ya ?” KIni Rio ikut-ikut menggodaku.
“Hehe.” Tawaku pendek, malu banget
“Elah..Vi, malu-malu lagi.” Shilla mencoba mencairkan suasana
“Ihhh , dasar Sivimut lucu banget sihh !!!” ejek Rio sambil menarik kuncirku, yang cukup membuat rambutku berantakan.
“Rioooooo !!!!!! jeritku sambil mengejar Rio yang berlari disusul Alvin dan Shilla.
Disinilah persahabatan baru kami dimulai. Persahabatan penuh cinta. 2 sahabat cowok yang jadian dengan 2 orang cewek yang bersahabat pula.
“Ternyata ‘dia’ku bukan hanya impian. This is real!! Special thanks for Shilla n Alvin. Makasih bintang-bintang disana, udah mendengarkan semua curhatku, dan Terimakasih Tuhan engkau benar-benar tak menghilangkan rasaku ke Rio karena memang ada maksud lain di balik semua ini .”
_SIVIA-RIO_
_SHILLA-ALVIN_
-friendship on love-
F O R E V E R

-----------------------------------------------------TAMAT-----------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar