Kamis, 24 Februari 2011

VC RINDUKAN DIRIMU - MSAH

ANDAI AKU SEORANG BUTA

hahaayyy , sehari 3 cerpen dipost dan gtau kapan lagi mau ngepost , wkaka ..
enjoyy read :D
hope u like this :p


- ANDAI AKU SEORANG BUTA –

“Bagian mana dari tubuh loe yang paling loe banggain ?” Tanya Angel pada teman-teman se genk-nya
“Kalo gw , dagu gw nih .. lancip .. banyak yang ngiri, wkwk.” Sahut Ify
“Apa yaa ? pipi chubby gw dah. Lucu kan, kalo loe sendiri ?” jawab Via sambil memegangi pipinya yang chubby dan lucu
“Gw apa ya ? tulang gw kali, soalnya gw bangga badan gw gede.hehe”jawab Angel sambil membentuk tangannya menyerupai huruf “V” menandakan agar tidak mendapat seruan dari temennya
“Ga nyambung !!” cela Sivia dan Ify
“Kalo loe Shil ?”
“Mata gw lah , secara mata gw nih yaa .. perfect lah buat wajah gw. Ga sipit , ga lebar, bening , yahh gitu lah sob. Banyak yang muji.” Jawab Shilla membanggakan matanya.
“Stop ! cukup bangganya. Kita tau..peri mata indahnya Cakka. Haha.” Timpal Via dan Ify bareng-bareng.
Ya, mata Shilla memang bagus, cocok dan proporsional sekali dengan wajahnya yang cantik. Belum lagi bulu mata lentiknya yang seolah memihak pada pemilik mata indah itu bahwa mata itu memang patut dipuji. Banyak yang iri dengan mata indah Shilla. Sebenarnya, Shila merupakan anak yang baik, dia ramah, pintar, dan murah senyum. Namun, dia berubah saat banyak orang melirik dan mengatakan bahwa matanya bagus dan sangat proporsional sekali dengan wajahnya. Tidak terlalu sipit, ataupun lebar. Ya, begitulah kira-kira. Sangat menghipnotis (?). Dia menjadi sombong, suka membangga-banggakan matanya, seolah hanya matanya yang paling indah.
Angel, Shila, Sivia, dan Ify tergabung dalam satu gank yang cukup popular. Mereka cantik, pintar, berbakat, dan banyak yang ingin berteman dengan mereka. Tapi sekarang, banyak yang menjauhi bahkan memusuhi mereka, eh.. bukan mereka, tapi hanya Shila. Semua menganggap Shila telah berubah sejak banyak pujian menghujaninya. Angel, Sivia, dan Ify sudah sering menasehati Shila agar tidak terlalu menyombongkan matanya, namun malah lototan (?) yang mereka dapat dari Shila saat mencoba menasehati.

“Eh, loe sini ! Kalo kertas tadi masuk ke mata gw gimana ? Mau loe ganti mata gw ?!” marah Shila sambil melotot seakan menghukum Alvin saat dirinya hampir terkena tembakan kertas dari Alvin.
“Yee, orang ga kena. Ya udah lah.” Ujar Alvin santai.
“Ikh, loe ga tau apa, mata gw tuh peenting banget bagi gw !”
“Heh, semua orang tuh emang butuh mata kali.” masih dengan gaya cool-nya Alvin mencoba sabar.
“Dasar loe ! Sipit ! Pokoknya gw gak mau ya loe mainan tembak kertas atau apalah itu di dekat gw! Loe tau kan mata gw tuh …”
“Bye” jawab Alvin sambil berlalu meninggalkan Shila
Shila masih melotot dengan tingkah Alvin barusan yang membuatnya muak dan badmood pagi ini.
Alvin memang salah satu dari sekian banyak anak di SMP Idola Bintang yang kurang suka bila Shila sudah berbicara tentang matanya. Maka dari itu dia memilih berlalu dari hadapan Shila, daripada harus berurusan tentang mata dengan Miss.Eye itu.
“Untung gw kabur..” gumam Alvin
“Kabur darimana bro ?” Tanya Iel tiba-tiba, cukup mengagetkan Alvin
Alvin menoleh, “Si Miss.Eye”
“Kok bisa ?” Tanya Iel belum puas dengan jawaban Alvin
“Bisa apanya ?” Alvin bertanya balik sambil menyipitkan matanya
“Ada masalah apa loe sama si Shila ?”
“Ya, gw tadi maenan tembak kertas di deket dy.”
“Akh, loe mah .. trus ?”
“Ya dia ngoceh tuh, gw tinggal aja.”ujar Alvin tanpa rasa bersalah
“Haha, sombong banget ya tuh orang. Padahal Ify, Via, Angel juga lebih cantik” Sahut Iel tanpa memperhatikan ekspresi wajah Alvin yang berubah.
“Loe suka salah satu dari mereka, Yel ?” Tanya Alvin ketika mendengar nama Ify disebut juga
“Ga ding, lupakan.” Iel merutuki dirinya karena keceplosan memuji 3 karib Shila itu
Malam ini, seperti biasa Shila sedang berdiri di depan kaca, melihat pantulan simetris dirinya sambil senyum-senyum.
“Cantik juga gw.” Ujarnya narsis
Mentari hari ini sangat bersemangat untuk menyinari bumi. Seolah telah tidur semalaman, mentari pun menyinari bumi dengan pancaran sinar terbaiknya. Shila menggeliat malas menyongsong harinya pagi ini. Mengumpulkan sisa nyawanya yang terbawa mimpi tadi malam. Shila segera bangun, mandi, dan mematut dirinya di depan kaca. Senyum terpancar jelas di bibir tipisnya. Tidur yang cukup tadi malam membuat moodnya lebih baik pagi ini.
“Sempurna.”gumamnya

Setelah memakai bandananya dan mengecek mata, tentunya .. Shila segera menyelempangkan tas pink-nya, lalu turun ke bawah, ikut sarapan pagi bersama kedua orang tuanya.

“Pagi, cantik ” sapa papanya
“Pagi, papa-mama” sambut Shila sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
“Pa, aku hari ini berangkat bareng Cakka ya.” Izin Shila pada papanya
“Naik apa ?”
“Jalan, Pa .. Sekalian olahraga, lagian kan gak jauh-jauh juga sekolah ma rumah, lewat jalan terabasan (?), Pa.. Boleh yaa ?”
“Iya, yang penting kamu sekolah dan gak terlambat.”
“Sipp !!” Ujar Shila sambil melahap nasi goreng istimewa buatan mamanya.

Drrt Drrt
1 new message from : cakka_NRG
Ayo !! Gw d depan rumah loe !”

Tanpa membalas , Shila segera beranjak dari kursi makannya dan ke luar. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, pastinya.
“Hy” Sapa Shila pada pacarnya tersebut
Cakka hanya membalas dengan senyuman manisnya sebelum mereka benar-benar berjalan menjauhi rumah Shila. Mereka berceloteh ria sepanjang perjalanan, diselingi dengan guyonan khas anak SMP dan ejek-ejekan kecil.

Tiba-tiba ..
“Brukk ..!!” Shila terjatuh karena bertabrakan dengan seorang kakek buta hingga baju yang dikenakannya sedikit kotor.
“Auww !” jerit Shila
“Maaf neng .. Saya gak sengaja.”
“Maaf ? Enak banget , loe jalan pake mata donk !! Pagi-pagi jangan pake kacamata item !! Gaya banget deh!!” Shila mencerca kakek tua itu dengan bentakan dan mata melotot
“Iya, saya bener-bener gak sengaja.. Saya buta .”
“Oh , buta ?! Pantesan , lain kali kalo buta jalan lebih ati-ati !! Atau sekalian aja gak usah keluar rumah biar gak bawa korban !!” dengan tatapan merendahkan Shila masih mencaci kakek-kakek itu.
“Udah Shil.. loe gak papa kan ? Kasian juga .” Ucap Cakka menengahi
Dari tatapannya Shila memang sedikit kecewa, namun balasan tatapan dari Cakka mampu meluluhkan hatinya.
“Emm .. Maaf kek.. Teman saya emosi .. Tapi dia baik kok sebenernya .. Maaf yaa kek , tolong jangan dimasukkan hati .. Saya mewakili teman saya benar-benar minta maaf pada kakek.” Cakka meminta maaf ke kakek dengan sungguh-sungguh
“Kakek yang harus minta maaf, kakek memang harus lebih hati-hati.”
“Yasudah kek, kami berangkat sekolah dulu. Maaf kakek, hati-hati.” Cakka mengundurkan diri, pamit pada kakek itu.

Shila hanya menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan dan segera menarik tangan Cakka untuk segera melanjutkan perjalanannya.
“Ihh , ngerusak mood orang banget deh !” Shila masih terlihat sangat kesal
“Udahlah, Shil .. Toh loe gapapa .. Jangan keterlaluan kayak tadi .. Kasian .. Pasti kakek nelangsa di dalam hatinya.” Nasehat Cakka penjang lebar
“Huh !! Tapi kesel banget cakkkaaaa !!” ujar Shila setengah berteriak
“Iya iya , yaudah lah lupain aja .. Anggap aja gak pernah ada kejadian tadi.”
“Huft !!” Shila melepaskan semua bebannya bersama tarikan nafasnya.
“Everything gonna be okay, senyum donk !!” Rayu Cakka yang berhasil membuat mood Shila sedikit kembali.

Setiba di sekolah ..
“Tumben Shil, agak siangan ?” sapa Ify pada sahabatnya satu itu.
“Gak biasanya nih.” Sahut Angel
“Bareng Cakka” jawab Shila singkat
“Nyeh ? Bukannya seneng malah muka ditekuk gitu -_-“ Protes Via. 2 sahabat yang lain menganggukkan kepala tanda setuju dengan pendapat Via.
Shilla pun menceritakan apa yang terjadi di jalan tadi dengan nyaris sempurna, tak ketinggalan satu aktivitas pun.
“Salah sendiri, buta !!” Shila tampak meluapkan emosinya pada akhir ceritanya.
“Hus !! Shila !! Kualat loh !!” Ify memperingatkan
“Iya nih, hati-hati loe Shil kalo ngomong.” Sambung Via
“Iya. Yaudah lah Shil, loe juga gak papa.” Respon Angel


“Shila, mau gimana lagi ? Kamu harus tetep pake kacamata agar matamu bisa kembali normal, sayang.” Bujuk mama Shila
“Gak mau !! Mata indah Shila gak bisa kliatan kalo pake kacamata. Shila gak mau !!” Shila tetap bersikeras
“Shila mau pakek contactlens aja.” Lanjutnya
“Sayang, contactlens itu BAHAYA !!” terang mama Shila sambil menekankan pada kata ‘bahaya’.
“Aduh mama , Shila bisa jaga diri Shila .. contactlens itu gak akan nyakitin Shila kok.” Shila meyakinkan mamanya agar setuju dengan keputusannya.
“Yaudah, mama nyerah”
“Yeee !!” terpancar kegembiraan di wajah Shila karena matanya tidak jadi tertutup oleh tebalnya kaca yang membantu penglihatannya itu.
“Tambah bagus aja mata loe Shil !!”
“Keren deh loe !!”
Shila tersenyum bangga dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Mata Shila memang terlihat lebih cantik dengan lensa mata buatan berwarna biru itu. Cocok dengan kulitnya yang putih dan oval.

Shila mengucek-ucek matanya. Dia lupa bahwa siang tadi Shila belum melepas contactlens-nya sebelum ia tertidur sehingga sampai sore ini pun lensa mata masih tetap berada di dalam matanya. Seolah tidak sadar dengan keadaannya, Shila masih saja mengucek matanya.
“Auw !” pekik Shila pelan
“Oh My God. Lensa gw. Mata gw. Periihh”
Segera ia berdiri dari tempat tidurnya, melihat pantulan dirinya di cermin yang jadi satu dengan almari besarnya. Namun malah pandangan buram yang didapatnya, bukan dari satu mata, namun dari kedua matanya.
“Mamaaaaaa .. !!” teriak Shila
“Apa sayang ?” Mama Shila menghampiri dan mengelus lembut rambut hitam Shila yang sedang menangis.
“Kenapa Shila ??”
“Buram, Ma ..”rengek Shila, butiran air mata masih terus mengucur dari sudut matanya
‘Buram ?? Maksudnya ?? KEnapa Shil ?” Mama makin panic dengan keadaan Shila

“Shila harus operasi mata, namun itu hanya untuk mengambil contactlens di dalam mata Shila. Suatu kejaiban bila mata Shila kembali normal, namun kemungkinan terburuk, Shila .. buta.” Jelas dokter Duta, dokter mata ternama di kota itu.
“Bb..bbu..ta, Dok ?” Tanya mama Shila terbata-bata tak percaya
Dokter Duta hanya dapat menghembuskan nafas pasrahnya. Tangis mama Shila pecah seketika mengetahui kenyataan pahit yang akan dihadapi anak semata wayangnya. Tanpa mata yang sempurna. Tanpa mata yang dibanggakan. Tanpa bisa memandang langit biru di atas sana, atau bahkan hanya untuk mengambil benda-benda di dekatnya dengan benar. Oh .. mimpi buruk apa ini ??

“Ma .. kok gelap yaa ?” Tanya Shila selesai operasi mata.
“Iya sayang , lampu mati kali ya ?” jawab mama Shila berusaha untuk tidak menangis
“Tapi ini bukan gelap biasanya, Ma.. Hitam .. Semua hitam ma, Hitam ..!! APa Shila buta ma ?? Iya ma ?? Jawab Ma !!” tangis Shila tak kuasa menghadapi kenyataan.
Mama Shila hanya menangis, tak sanggup menjelaskan semua yang terjadi pada anak semata wayangnya tersebut.
“Mama .. Shila gak buta kan, Ma ..?”
“Mama !! Shila gak butuh tangisan mama !! Shila butuh jawaban, Ma !!” Shila memaksa.
“Maaf sayang , memang begini keadaanya ..”
“Nggak ma, nggak .. !! Tangis Shila memecah keheningan di ruangan putih yang terlihat hitam, kelam di mata Shila


Shila menatap kosong jalan di depan teras rumahnya. Tentu saja kosong, semua gelap di mata Shila.
“Shila ” sapa Cakka, tersenyum manis sekali
“Ya ?” jawab Shila masih setia dengan ekspresi datarnya
“Gw datang, Cakka . Inget kan ?”
“…”
“Shil ?”
“Gw gak bakalan lupa sama loe kok, Ka.” Respon Shila, kali ini dengan senyuman paling tipis yang pernah diberikan kepada Cakka, pacarnya itu
“Lagi mikirin apa, Shil ?”
“Gak papa”
“Bener ?” Tanya Cakka
“Jalan-jalan mau ? Kita ke taman ?” lanjut Cakka menawarkan diri hendak menemani Shila. Shila hanya menganggukkan kepalanya
“Yaudah, ayo !! ajak Cakka semangat
“Eh, cowok terkeren satu sekolah jalan ma cewek buta”
“Harusnya si cewek tau diri donk ya..!!”
“Mataku yang indah, kemana ya ??”
“Punya mata indah, tapi gak bisa ngliat. Percuma !!” celetuk beberapa teman sekolah Shila yang kebetulan lewat di taman
Air mata Shila tak kuasa lagi untuk tetap berlindung di bawah pelupuk matanya.
“Shila .. Jangan nangis .. Jangan dengerin omongan mereka .. mereka iri sama kita.”
“Mereka bener kok, Ka .. Gue harusnya tau diri .. Gue buta .. Gue gak pantes temenan atau bahkan kenal sama loe .. Loe keren, ganteng, pinter, baik .. pasti banyak cewek cantik yang mau sama loe.” Shila tersenyum miris
“Nggak Shila .. Loe tetep yang terbaik buat gw, senyum donk Shil .. aku gak suka liat kamu nangis ..”
“Kita pulang ya ?”
Kembali dengan ekspresi datar, Shila hanya menganggukkan kepalanya
“Maaf ya Shil ?”
“Untuk ?”
“Karena gw, loe jadi nangis”
“Bukan salah loe kok, makasih ya .. Loe mau nerima gw apa adanya.”

Berhari-hari Shila mengurung diri di kamarnya. Cakka pun tak bisa meluluhkan hati Shila.
“Shila gak kuat kayak gini. Shila mau kayak dulu lagi. Bisa ngliat semuanya. Tuhan .. ijinin Shila bisa ngliat lagi .. Shila janji Tuhan .. Janji .. Shila gak akan sombong lagi.” Ucap Shila di sela doanya
Siluet-siluet awal mula ia buta pun berputar-putar di kepala Shila. Dengan sisa air matanya Shila mencoba untuk menghapus semuanya , namun percuma itu tak berpengaruh apa-apa.

“Shila gak mau butaaaa !!!” jerit Shila.
“Kamu kenapa sayang ?” Mama Shila membangunkan putri kesayangannya itu
“Shila ..” perlahan-lahan Shila membuka matanya
“Jelas .. Berwarna .. Shila gak buta !!” ujar Shila
“Hey !! Kamu ngomong apa sayang ? Ayo bangun !! Udah pagi ..”
“Ma ..” ucapan Shila menggantung
Air mata Shila kembali mengucur, “Mama .. Shila mimpi buta, Ma. Shila takut dan Shila gak mau buta
“Shila gak buta sayang .. Mimpi itu cuma bunga tidur .. Mungkin ada hikmah di dalamnya .. Udah , sana .. mandi !!” perintah mamanya

“Gw akan berubah !” tekadnya
Senyum merekah dan mata yang berbinar ia tunjukkan kepada siapapun. Tak peduli apa reaksi orang melihat perubahan sikapnya. Namun yang jelas senyum tipis tapi pasti itu menunjukkan betapa bahagianya dia hari ini.
“Senyum senyum napa Shil ? Tumben !!”
“Gak papa , gw pingin berubah .. Gw gak mau sombong .. Gw mau jadi Shila yang dulu ..” tatapan bingung 3 sahabat Shila mengiringinya, hingga Shila keluar kelas hendak menemui Cakka

“Cakka , loe mau gak anterin gw ?” Tanya Shila berharap sekali Cakka mau
“Kemana ?”
“Gw mau ke kakek tua yang gw tabrak waktu itu. Gw mau minta maaf.”
Cakka membelalakkan matanya, tak percaya dengan pernyataan Shila.
“Serius ?”
“YA donk !! Bye !!” pamit Shila kembali membuat 1 orang lagi bingung karena ulahnya
“Aneh .. Tapi gak papa deh .. Bagus .. Loe mau berubah” gumam Cakka dengan seulas senyum

“Shil , kemana sih orangnya ? Kita udah muter-muter nih .. Loe gak capek apa ?”
“Aduh Cakkaku .. Prince charmingku .. Minta maaf itu harus butuh pengorbanan”
Sambil memijat kaki dan mengelap keringat, Cakka yang saat itu sudah benar-benar kelelahan, dikagetkan Shila hingga hamper tersungkur, “Cakka !! itu kakeknya !! Kejar !!”
“kakek, tunggu !!”
“…”
“Kakek , Shila yang nabrak kakek tempo hari .. Shila mau minta maaf, Shila yang salah , Shila gak hati-hati , maaf ucapan Shila waktu itu buat kakek sakit hati.” Mohon Shila tulus dari dalam hatinya
“Kakek udah maafin, neng .. Kakek kurang hati-hati”
“Bukan kakek , tapi aku !! Shila yang salah .. maaf ya kakek.”

Cakka menyaksikan keadaan itu dengan senyum bangga sekaligus haru pada pacarnya itu.
“Iya iya, sekarang kamu pulang .. Pasti ibu kamu nyari ”
“Iyah kek , maaf banget ya kek .. Permisi ..” pamit Shila
“Cakka juga permisi kek ..”
“Iyah iyah , silakan ..”

“Gw bangga sama loe !”
“Why ?”
“Loe mau ngakuin kesalahan loe , loe gak gengsi buat minta maaf .. tetep kayak gini ya .. Jangan berubah ..”
Shila tersenyum mendengar pernyataan Cakka, “Bisa aja loe !” sambil menoyor pelan kepala Cakka
“Udah ah , sana !! Uda nyampe !!”
“yee , makasih ya Ka .. Loe dah mau capek capek nganter gw .. Padahal yang salah Cuma gw , tapi loe jadi kebawa-bawa”
“Udah deh , sana ..” suruh Cakka

Shila dan Cakka saling menatap dalam fikiran masing-masing.
“Mata loe lebih indah kalo lo kayak gini, Shil.”puji Cakka
Shila hanya tersenyum, tidak menjawab sepatah katapun, dan mencoba misterius di depan teman, sahabat, kakak, sekaligus kekasihnya itu.

“Mata gw ga indah, Ka .. Mata gw sama kayak yang lainnya. Karena gw sadar, tiap mata punya bagian yang sama, punya retina,kornea,pupil, dan lensa yang sama. Mata kita gak akan indah tanpa hati yang indah pula. Buat apa kita punya mata terindah, namun hati kita buta. Kita tak bisa menatap apapun yang indah di depan kita. Buat apa kita punya mata terindah, bila mata hati kita tak bekerja. Mata dan hati punya pancaran yang sama. Saat hati kita senang, mata tak bisa berbohong, begitu juga sebaliknya. Gw bersyukur, Tuhan ngasih gw mata yang indah. Tapi gw akan lebih bersyukur jika Tuhan ngasih gw mata hati yang indah, yang memancarkan cinta.” Batin Shila sambil berjalan menjauhi Cakka yang masih menatap punggungnya, mungkin dengan hati yang bertanya-tanya.

-------------------------------------------------TAMAT------------------------------------------------------------

DIA BUKAN HANYA IMPIAN

Hhee , saya kembali lagi membawa 1 cerpen (jelek dan geje) made in saya sendiri (?)..
happy read , hope u enjoy with it :p


DIA’ BUKAN HANYA IMPIAN

Jantungku meloncat seolah ingin keluar ketika melihat sosok itu. Sosok yang beberapa minggu ini selalu melayang-layang di pikiranku. Tubuh kurus tingginya dan rambut acak-acakannya terlihat sangat keren di mataku. Berkali-kali aku melihatnya namun tak pernah terbesit rasa bosan dalam hati, pikiran, dan mataku. Seolah mereka dengan senang hati bekerjasama denganku untuk makhluk yang sedang memainkan bola di bawah sana. Makhluk Tuhan yang untuk pertama kalinya mampu membuatku tak berkedip dan selalu ingat apapun yang dikerjakannya. Kali ini, walau jarak antara kami cukup jauh, namun senyumannya sukses membuatku salah tingkah. Ya, kini dia berada di lapangan basket sedangkan aku di lantai 2 sekolahku. Aku sedang menatapnya atau lebih tepat memandangnya seolah itu pemandangan sunset yang selalu membuat tiap orang berdecak kagum. Gerakan kaki dan tangannya yang lincah menambah kekagumanku pada dia. Aahh .. kapan aku bisa memiliknya ? tanyaku dalam hati. Yahh, walaupun hanya khalayalan, toh .. tak ada yang melarang. Belum puas aku berkhayal saat itu, tiba-tiba ..
“Hayo.. Via .. senyum-senyum ngapain tuh ?”
“Akhh , Shilla .. ngagetin aja sih.” Ujarku sambil sedikit memperlihatkan kekesalanku.
Ya , dia sahabatku, Ashilla Zahrantiara, anak yang cantik,baik,pintar,namun memiliki tingkat kejailan yang di atas rata-rata.
“Hehe..maaf .. kamu aku cariin kemana-mana tau, ekh taunya lagi ngayal disini.” Shilla memberi alasan .
“Huuu..biarin, yang penting kan seneng.”
“Udah ah ayo .. bosen juga ngliatin bola,selalu aja 1 bola buat rebutan.” Ajak Shilla.
“Huft !! Ni anak ganggu aja sih.” Batinku, sedikit kesal sih dengan Shilla.

Memang Shilla sengaja belum kuberitahu soal rasaku ini. Aku mau kasih surprise ke Shilla tentang hal ini. Jadi, aku ga mau buru-buru kasih tau ke Shilla. Oiya, namaku Sivia Azizah .. Ya seperti kalian ketahui, aku lebih sering dipanggil Via oleh teman-temanku. Aku kelas 8 di SMP Bintang Umum (?) ini.

“Vi, tadi kamu ngliatin apa sih ? Kok sama senyum-senyum geje gitu ? Hayooo .. naksir anak basket yaa ? wahh , Via nih ga seru, ga pernah cerita. Ayoo !! Cerita cerita !!” Cerocos Shilla sebelum aku menjawab satu pun pertanyaannya.
“Ikh , nggak kok .. Tadi tu senyum gara-gara liat itu si Riko kepleset. Iya bener gitu.” Jawabku sedikit gelagapan.
“Ohh, kirain lagi naksir , awas ya kalo naksir anak tapi gak cerita.” Ancam Shilla sedikit menyindirku.
“Hha .. beres kawan.” Ucapku menutupi semuanya dan berharap Shilla ga curiga dengan surprise ini.
“Tapi surprise dalam rangka apa ya ?” Batinku, bingung juga. “Elah .. gampang deh ntar gimana, yang jelas aku sekarang mau mendam perasaan ni sendiri dulu.”
Malam ini bintang-bintang terlihat asyik bercengkrama di atas sana. Aku bisa melihat itu dari balik jendela kamarku. Sepoi angin pun terasa sedikit menusuk ke pori-pori. Namun, tidak sedikitpun aku terusik oleh keadaan ini. Malah semakin lebar aku membuka jendela kamarku. Indah, bahkan sangat menarik untuk dilihat memperlihatkan betapa besar keagungan Tuhan. Di tengah sedang melihat bulan dan bintang pentas di atas sana, aku pun tengah memikirkan bintangku yang lain. Yaaa.. Siapa lagi kalo bukan Mario Stevano Aditya, seorang anak sebayaku yang kini bayangannya tengah berputar-putar bagai rekaman di dalam otakku. Sedikit kusunggingkan senyumku saat mengingatnya.
“Rio..Rio..Rio..hmfth!! I like you, boy.”
Keesokan paginya di sekolah aku sedang celingak celinguk mencari Rio. Namun bukan Rio yang kudapat, malah si Shilla dengan PDnya datang dan menyapa
“Pasti celingak celinguk nyari aku deh, hhe.” PD Shilla
“Geer ikh .” sambil melengos meninggalkan Shilla.
“Kebiasaan ! Vi, tunggu !!” teriak Shilla

Lagi lagi dan lagi lagi aku sedang berdiri di lantai 2 sekolahku sedang memperhatikan Rio. Kali ini tanpa kostum dan bola basketnya, Rio tampak lebih pendiam. Ia tengah bercengkrama dengan teman-teman timnya. Yah, maybe dia sedang membicarakan basket, atau apa. But it’s unimportant for me, karena sekarang melihat senyum khas Rio lah yang kucari. Deg .. tanpa disangka dan diduga, tatapan mata kami bertemu. Aku tak bisa berkata-kata, bahkan senyum yang biasa aku sungingkan saat membayangkannya pun tak terbentuk di sudut bibirku. Terlalu gugup ! Segera aku mundur dari tempatku berada dan berlari menjauh. Merah padam atau apa pasti sudah tergambar jelas di wajahku. “Via odong!! Napa malah salting sihh” rutuku dalam hati.
Setiba di kelas,
“Via .. aku punya cerita, kayaknya aku mulai suka anak disini deh.” Curhat Shilla
“Sapa sapa ?” tanyaku tak sabar, dan berdoa bahwa yang disuka Shilla bukan Rio.
“Yang jelas dia anak basket.” “Waduhh..”batinku
“Cakepp.” “Jangan diaa..” aku tetap membatin
“Senyumnya khas banget..Aaaa..melty bangett.” “jelas deh, sainganku sahabatku.”
“Selamat ya Shil, perjuangin rasamu itu.” Kataku seolah aku mendukung.
“Thanks Vi, kamu cari juga donk!! Hhe .”
“Cari ? Emang kamu kira barang.” Ujarku sambil melengos
“Tuh kan , kebiasaanya muncul lagi.” Keluh Shilla

“Aku harus berjuang ngilangin perasaan ini. Aku harus bisa. Aku gak mau sahabat sebaik Shilla sakit karena aku. Baru suka, udah ada tandingan .. Gak papa deh. Demi Shilla aku bakalan nyoba. Semoga gak susah.” Tekadku dalam hati
Hari demi hari aku coba buat ngilangin rasa itu, tapi bukan malah pergi, bayangan Rio yang selalu tergambar itu malah selalu muncul. Shilla yang sekarang jadi sering curhat pun juga malah ngingetin pada semuanya.
“Tuhann.. Aku emang sayang Mario, tapi aku gak mau sahabatku terluka. Kalo memang ini yang terbaik, aku rela .. Hapus semua tentang Mario dalam pikiranku.” Lagi-lagi aku hanya membatin saat Shilla tengah bercerita.
“Iya Vi .. dia di kantin juga sempat eyecontact ma aku, Vi. Seminggu suka sama dia, ada eyecontact..blabla” Curhat Shilla.
Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar penjelasan itu. Penjelasan yang membuat aku jauh lebih sakit karena penjelasan itu. Secara tidak langsung mejelaskan bahwa ‘dia’ memberi sinyal positif pada Shilla.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Tuhan .. bantu aku hapus memorinya dalam hidupku. Aku ga akan kuat mendengar semua curhatan Shilla kalo begini keadaanya.” Batinku sambil meneteskan butiran air dari mataku, sebenarnya aku ga pingin menangis tapi semuanya tak bisa kutahan lagi. Aku hanya berharap semoga memori dan perasaan tentangnya hilang bersama air mata ini.
Drrt Drrt
1 new message from : Shilshil
Via , lagi ngapain nih ? Vi, bsok aku mau curhat yah ;)

Pasti tentang dia. Akhh , ingin sekali kumenolak saat ini. Tapi apa boleh buat, salahku sendiri sih kenapa gak dari dulu kasih tau ke Shilla bahwa aku juga punya rasa yang lebih ke ‘dia’. Segera ku balas sms Shilla dengan sedikit berat hati.
To : Shilshil
Ya !

Kicau burung pagi ini terdengar lebih bersemangat dari biasanya. Rasa malas dan kantukku pun masih bersahabat erat seolah menantang burung-burung itu. Apalagi saat teringat bahwa hari ini aku harus kembali mendengar semua cerita Shila beserta sinyal positif ‘dia’. Namun, kewajiban sekolah harus tetap terlaksana, aku segera bangkit dari kasur bersprei doraemonku dan mandi.
“Uukh !! Napa harus gini sih klimaksnya !” Gerutuku sambil menguncir rambutku menjadi ekor kuda.
Dengan langkah malas aku memasuki gerbang sekolah. Senyumku pun ikut bersembunyi dalam tekukan wajahku. Kulihat Rio sedang berkumpul bersama teman-temannya sambil memainkan bola. Beberapa detik mataku menatap wajah sawo matangnya hingga dia mungkin merasa dan balik menatapku sambil tersenyum, bola yang tadi dimainkan pun menggelinding cukup jauh. Sedetik kemudian aku tersadar dan segera mempercepat langkahku menuju kelas.
“Senyumnyaa..aah , melty kan aku.”ucapku pelan, mungkin tak ada yang mendengar.
Di kelas sudah cukup ramai, Shilla pun sedang asyik mendengarkan musik dari i-podnya. Ketika melihat aku, dia langsung tersenyum dan melepas headset yang dari tadi menghibur pendengarannya.
“Hai Vi, datang juga akhirnya. Lama banget sih ! Katanya jam 1-2 kosong juga, jadi aku bisa cerita semuanya sama kamu.” Senyum manisnya seolah menggambarkan hatinya saat ini.
“Iya, cepet ceritanya !” Jawabku sambil tersenyum kecut atau mungkin lebih tepatnya senyum terpaksa.
“Yaa tersinggung dia .. gini, aku seneng banget nih.” Shilla mengawali curhatnya.
“Dah kliatan dari muka kamu!” ujarku cuek, dan segera meralat jawabanku ketika aku sadar ekspresi Shilla berubah mendengar jawaban sinis dariku.
“Eeh , maksudnya yaa aku tau kamu seneng makanya cepetan curhatnya, penasaran nih.”
Lega hatiku saat kulihat ekspresi Shilla balik seperti awal dan moodnya gak rusak gara-gara ucapanku tadi.
“Iya deh, kemaren dia bilang kalo dia juga suka aku. Kyaa !! senangnya !!” Jelas Shilla.

Jderrr !! Bagai disambar petir. Hatiku sakit, sakit sekali. Mengapa telah sejauh ini Shilla sama Rio. Dan kalo Rio benar suka sama Shilla, apa arti senyumannya tadi ? Apa dia hanya ingin mempermainkan hati Shilla atau mungkin aku yang terlalu geer ? Tak terasa butiran bening keluar dari kelenjar mataku, ya aku MENANGIS. Untungnya, Shilla yang sedang asyik bercerita tak sadar bahwa aku menangis, sehingga saat dia tengah menarik nafas saat bercerita, aku ijin ke kamar mandi. Di kamar mandi, aku membiarkan kelenjar mataku bekerja dengan sesuka hati, terlalu sakit. 15 menit kemudian, setelah aku puas mengeluarkan rasa sakitku bersama air mataku, aku membasuh mukaku untuk menyamarkan bekas tangisan di sekitar mataku. Saat kembali ke kelas, tak ayal Shilla langsung bertanya macam-macam padaku.
“Vi, darimana aja sih ? Ke kamar mandi lama banget ?” damprat Shilla
“Sorry sayang, tadi ada Irva jadi ngobrol bentar.” Jawabku
Shilla hanya manggut-manggut mendengar jawabanku.
“Yaps ! Jawaban yang tepat !” ujarku dalam hati

Beberapa hari telah berlalu, kesibukanku latihan vocal tiap hari sedikit banyak bisa jadi obat untuk melupakan masalah ini. Shila yang beberapa hari ini juga tidak cerita tiba-tiba bertanya padaku.
“Via , aku harus jawab apa nih ke dia ?”
“Emang nanya apa Shil ?” sahutku smbil membereskan buku
“Dia nanya, aku mau jadi pacarnya gak ?” ucap Shilla ragu
Aku yang sudah bisa menetralisir emosiku saat ini, bersaha memberi solusi pada Shila, walau perih itu masih terasa.
“Terima aja Shil kalo kamu emang dah yakin ma perasaanmu.”Kali ini dengan senyuman tanpa paksaan yang tersungging di wajahku.
“Oke, Vi .. Makasih”

“Ternyata bener, Rio emang sayang ma Shila. Rio ga ada rasa apapun sama aku. Selamat ya Shil, moga kamu sama Rio bisa bahagia. Apapun yang terjadi kamu tetep sahabatku Shil, dan Rio kamu pangeran impianku.” Aku berbicara sendiri malam itu, tentu saja sambil memandang ke arah bintang-bintang di atas sana yang memberi kehangatan tersendiri untukku.

Di kelas, terdengar teman-temanku sibuk koor menyoraki Shila. Kali ini aku bisa lebih tersenyum melihat sahabatku itu digoda teman sekelas.
“Via .. !!” Sapa Shilla dengan semangat.
“Hai !! Mana nih pangerannya ?” godaku ikut-ikutan.
“Apa-apaan sih, Vi ?” Shilla pura-pura memanyunkan bibirnya.
“Hehehe , ga ada traktiran nih ?”tanyaku
“Emm , gimana yaa ?” Shilla pura-pura berfikir

Pulang sekolah, Shilla tampak terburu-buru. Maklumlah pasangan baru.
“Vi, ak duluan ya.. Ada janji.”
“Oke !” sahutku, tanpa menoleh.
Dari sini, dari lantai 2 sekolahku kulihat Rio sedang memainkan bola, keliatannya sih sedang menunggu seseorang.
“Pasti nunggu Shila.” Pikirku menyimpulkan sendiri.
Aku bergegas turun ke lapangan, lantai 2 sdah mulai sepi. Namun, tak jauh dari tempatk berdiri, kulihat Shilla dan ALVIN bersenda grau. Shilla ? Bukankah dia ada janji dengan Rio ? Kok sekarang sama Alvin ? Tidakkah dia pikir, Rio tengah menunggunya di lapangan, kenapa mereka malah ..”
“Hy Vi !!” sapa Shilla
“Shila ! Lo tega banget sih ?! Shil, inget lo ada janji sama Rio ? Gak sadar lo dia nunggu lo di lapangan ?! Apakah ada penghianatan di antara kalian bertiga ?! Gue gak nyangka kalian gitu !! ” cerocosku emosi hingga mengganti kata ak-kamu menjadi lo-gue yang jarang sekali kuucapkan.
“Vi ?” Shilla masih memandanku tak percaya
“Apa ? Jahat lo Shil !! Gue korbanin perasaan gue ke Rio demi LOE ! demi LOE SAHABAT GUE YANG MENGECEWAKAN !!” ucapku sinis sambil berlalu.
“Via tunggu !! Kamu belum tau yang sebenarnya.” Shila mencegahku
“Apa ? udah jelas kan ?!”
“Via , gue jadian tuh ma ALVIN BUKAN RIO !!” menekankan kata Alvin bukan Rio
Aku menghentikan langkahku dan berbalik arah.
“Kamu dan kamu ?” sambil menatap Alvin dan Shila bergantian
“Ya .. Kita” ucap mereka berbarengan
“Waduhh, malu banget gue. Pasti kayak tomat deh ni muka, bzzz~ !!” batinku menahan malu.
“Rio ! Sini ! Nih ada yang nungguin!” Alvin memanggil Rio sambil melirikku.
Aku menaikkan sebelah alisku, tak mengerti.
Rio tersenyum ke arah Alvin dan Shilla. Lalu menatapku dan membisikkan satu kalimat yang mampu membuat duniaku berputar 1800 “I LOVE YOU” ucapnya. Muncullah semburat merah pada wajahku saat itu juga. Aku dapat merasakannya walau aku tak dapat melihat pantulan wajahku saat ini.
“LOVE YOU TOO” balasku masih menundukkan kepala.
“Ehem .. Jadian nih ?” Shilla dan Alvin menggoda
“Mau Vi ?” Tanya Rio
Tanpa pikir panjang, aku menganggukkan kepalaku tanda setuju. Saat itu, aku berharap ini bukan mimpi, dan ini memang NYATA. Bagai 2 orang yang baru menemukan pasangannya, kami berempat tertawa dan bersukacita.
“Haha .. Kalo dilihat tadi expresi Via waktu marahin kita lucu yaa ?” Shilla sukses membuat wajahku berwarna tomat sekarang.
“Apaan sih, Shil ?! malu-maluin aja!” balasku, manyun.
“Yee , kita tuh sebenernya tau kali Vi kalo kamu suka Rio, dan Rio juga suka sama kamu. Dan selama ini Shila kan jga belom pernah bilang kalo ‘dia’nya it aku, kamunya aja yang cepet-cepet buat kesimpulan sendiri.haha” ejek Alvin padaku
“Ihh , nyebelin deh kalian !!” sambil melipat kedua tanganku di depan dada
“Aduuhh..Via ..yang diomongin Alvin tu bener banget, Shilla kan gak pernah bilang kalo ‘dia’nya itu Alvin. Bodoh bodoh !! Anak basket, cakep kan gak hanya Rio. Dan surprisemu itu telah berbalik arah.” Aku merutuki diriku sendiri sambil mengetuk-ngetukan tanganku ke kepala.
“Kenapa Vi ? omongannya Alvin bener ya ?” KIni Rio ikut-ikut menggodaku.
“Hehe.” Tawaku pendek, malu banget
“Elah..Vi, malu-malu lagi.” Shilla mencoba mencairkan suasana
“Ihhh , dasar Sivimut lucu banget sihh !!!” ejek Rio sambil menarik kuncirku, yang cukup membuat rambutku berantakan.
“Rioooooo !!!!!! jeritku sambil mengejar Rio yang berlari disusul Alvin dan Shilla.
Disinilah persahabatan baru kami dimulai. Persahabatan penuh cinta. 2 sahabat cowok yang jadian dengan 2 orang cewek yang bersahabat pula.
“Ternyata ‘dia’ku bukan hanya impian. This is real!! Special thanks for Shilla n Alvin. Makasih bintang-bintang disana, udah mendengarkan semua curhatku, dan Terimakasih Tuhan engkau benar-benar tak menghilangkan rasaku ke Rio karena memang ada maksud lain di balik semua ini .”
_SIVIA-RIO_
_SHILLA-ALVIN_
-friendship on love-
F O R E V E R

-----------------------------------------------------TAMAT-----------------------------------------------

ANUGRAH TERINDAH YANG PERNAH KUMILIKI

Cerpen pertama asli bikinan saya , haha ..
Enjoy read :D


Oleh : Asita Almufidah (IX-D/30)
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu, whoo ..
Saat kau di sisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu ..
Anugrah terindah yang pernah kumiliki ..

Allyssa meneteskan air matanya tuk yang kesekian kali saat mendengar rekaman suara itu. Emosinya sangat susah dikendalikan bila ia sudah mendengar alunan suara indah dalam rekaman tersebut. Separuh jiwanya seakan hilang saat ia mendengarkan irama dalam lagu itu. Ya, lagu itu sangat menggambarkan ungkapan hatinya.
“Mario , aku kangen kamu .. ! Aku pengen kamu ada disini.” Ucap Alyssa sambil menerawang, entah apa yang dilihatnya. Namun, hanya 1 yang dibayangkannya ..

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
10 tahun lalu ..
Pagi itu masih sepi, hawa terasa begitu sejuk, embun pagi seakan enggan menguap dari daun hijau segar, kicau burung terdengar nyaring bersemangat.

“Ayo Mario !! kejar aku !! Hahaha.” teriak Alyssa.
“Ish ! Awas ya kalo ketangkep !!” Mario pun mengejarnya.
“Cemen ahh !” kata Alyssa sambil menjulurkan lidahnya.
Begitulah 2 sahabat itu selalu menghabiskan waktunya bersama. Mereka selalu kompak dalam segala hal. Saling membantu dan jarang sekali terlibat pertengkaran antara keduanya. Mereka adalah Mario dan Allysa. 2 orang sahabat yang tinggal di sebuah panti asuhan. 2 orang sahabat yang sangat tegar menghadapi segala masalah.

“Hahaha .. masa’ gitu aja nyerah , kalah donk ma aku !” ejek Allyssa sambil mengacungkan jempolnya ke bawah.
“Gak akan aku nyerah ma kamu!” teriak Mario tak kalah.
Alyssa masih terus saja berlari, sedangkan Mario, ia sudah terengah-engah. Hingga saat sedang asyik kejar-kejaran , tiba-tiba ..

“Mario .. bangunn .. !! Kamu kenapa ? kok jadi pucat gini ?” Allyssa kaget setelah mendapati sahabatnya itu terkulai lemas.
“Bunda Wiwinn , Bunn .. !! teriak Allyssa tergesa-gesa.
“Ada apa sayang ? Lho, kok nangis ?” Tanya bunda Wiwin selaku ibu panti dengan lembut.
“Mario bu !! Mario !! Tadi jatuh terus ga sadar, Alyssa takut bu !” Alyssa terisak.
“Apa ? Sekarang mana Mario ?” Tanya bunda Wiwin, panik.
“Di halaman.” kata Alyssa sambil berlari ke arah halaman.
Dalam keadaan panik itu, Mario segera dibawa ke puskesmas terdekat. Semua tampak cemas menunggu di luar ruangan periksa.

“Semua ini gara-gara aku, Bun, aku yang ajak Mario kejar-kejaran gini. Aku ga akan maafin diri aku kalo Mario kenapa-napa.” sesal Alyssa.
“Sayang, kamu ga boleh gitu. Ga ada yang salah kok. Ini musibah sayang. Dan percaya sama bunda, Mario ga akan kenapa-napa.” Ujar bunda Wiwin
“Tapi .. ”
Belum selesai Alyssa bicara, dokter keluar dari ruangan periksa Mario.
“Dokter, Mario gimana ?” tanya Alyssa tak sabar.
“Dokter, gimana keadaan putra saya ?” tanya bunda Wiwin.
“Nak, Mario ga papa, ia hanya kecapekan.” jawab dokter pada Alyssa.
Alyssa tersenyum lega mendengar jawaban dokter, namun ia masih belum puas akan jawaban itu. Terlalu ganjal bagi Alyssa.

“Untuk ibu, boleh saya berbicara sebentar ?” tanya dokter
Bunda Wiwin hanya membalas dengan anggukan, tanda setuju. Diam-diam Alyssa mengikuti bunda Wiwin dan dokter. Otaknya tidak bisa menjawab rasa penasarannya sehingga ia memutuskan untuk membuntuti keduanya, walau ia tahu, mungkin itu adalah hal lancing.
“Bagaimana dok, apakah Mario benar-benar dalam keadaan baik ?” tanya Bunda Wiwiwn
“Begini ibu, Mario ternyata mengidap penyakit leukimia, sehingga ia tidak bisa me-lakukan pekerjaan terlalu berat, saya himbau agar Mario tidak terlalu capek. ” Ujar dokter itu.

Guratan kekecewaan dan kesedihan sangat terlihat dalam raut wajah bunda Wiwin.
“Apa semua ini akan baik-baik saja ? Apa bisa sembuh, Dok ?” sambung bu Wiwin.
“Leukimia ? Apa itu ? Parahkah itu ?” berbagai pertanyaan muncul begitu saja di benak Alyssa saat mendengar kata asing itu.

“Semua akan baik-baik saja, asalkan Mario tidak terlalu lelah dan kita bisa menjaga kesehatannya dengan baik. Saya tidak bisa menjamin apa penyakit ini bisa sembuh atau tidak, tapi kami akan membantu agar Mario bisa sembuh.” Ujar dokter kemudian.
“Aminn .. Dok, saya mohon agar Alyssa tidak mengetahui hal ini. Dia pasti akan sedih melihat kenyataan ini” pinta Bunda Wiwin.
“Baik, kalau itu terbaik untuk mereka”. jawab dokter.
“Ya sudah, saya permisi dok, mau jenguk Mario dulu.” pamit bunda Wiwin.
Alyssa segera berlari ke tempat asal agar bunda tidak curiga dirinya sejak tadi mendengar pembicaraan bunda dengan dokter.
“Apa kata dokter, bun ?” tanya Alyssa berpura-pura.
“Rio hanya butuh istirahat
“Kita jenguk Mario yuk, bun !” ajak Alyssa

Alyssa dan bunda Wiwin masuk ke ruangan rawat Mario. Mario pun juga sudah sadar.
“Mario , kamu buat aku khawatir deh.” Alyssa lega melihat Mario sudah sadar.
“Maaf ya, kenapa ? kamu takut kehilangan aku ya ?” narsis Mario.
“Ihh , yaiyalah, kamu kan sahabat aku yang paling baik.” Balas Alyssa dengan senyuman manjanya.
“Emang aku kenapa ?” tanya Mario.
“Maaf, aku tadi ajak kamu lari-lari, kamu jadi capek.” jawab Alyssa dengan senyum terpaksa karena pikirannya kembali menerawang ada satu kata ‘leukemia’.
“Sa ? kenapa?” panggil Mario mengagetkan Alyssa.
“Eh, ga papa. Maaf ya.”
Mario hanya membalas dengan senyuman.

Bu Wiwin yang melihat kejadian itu hanya tersenyum geli. Beliau tidak menyangka, begitu erat hubungan keduanya.
Setelah kejadian itu, mereka tidak pernah kejar-kejaran lagi walaupun Mario yang mengajak Alyssa kejar-kejaran, namun Alyssa segera menolaknya, takut kejadian itu terulang.
Kini, sudah 10 tahun kejadian itu berlalu. Masing-masing dari mereka juga sdah mengetahui penyakit yang mengancam jiwa Mario.
“Mario !! Balikin kotak pensilnya !! Itu buat tugas tau !!” Mario yang sudah mulai lupa kejadian 10 tahun lalu terlihat kejar-kejaran lagi.
“Tangkap donk kalo bisa !!” Jail Mario sambil berlari.
“Mario ! Aku ga mau kejar-kejaran, capek ahh !” alasan Alyssa.
“Sekali-kali aja, aku kangen kita kejar-kejaran gini, please kejar aku!” mohon Mario.
Tiba-tiba saat asyik berlari-larian, kejadian itu .. kejadian yang membuat Alyssa trauma akan lari .. kejadian yang sulit sekali terlupakan oleh Alyssa selama 10 terakhir ini. Mario kembali tak sadarkan diri. Alyssa segera berlari mendekati Mario dan menggoyang-goyang badan Mario.
“Mario .. !!! Bangun ! Aku udah bilang kan, aku ga mau kejar-kejaran ! Mariooo ! huhuhu” Tangis Alyssa kembali meledak.

Di rumah sakit,
“Alyssa, ke taman yuk !! Aku mau kasih kamu sesuatu lho !!” ajak Mario.
“Gak, kamu masih lemah, aku ga mau kamu kenapa-napa.” tolak Alyssa.
“Aku ga mau kamu kayak gini lagi buat yang ketiga kalinya, kamu dipasang infuse, kamu terbaring disini, aku ..”jelas Alyssa panjang lebar namun dipotong oleh Mario.
“Ssssttt .. aku janji .. Ini yang terakhir aku masuk rumah sakit ini.”
“Ayo donk !! please !!” lanjut Mario memohon.
“Ya deh, demi sahabat terbaikku.” Alyssa menyerah.
“Lho, kok bawa gitar ?” Tanya Alyssa
“Udah deh ikut aja!” kata Mario sambil memamerkan senyum termanisnya.

Di taman rumah sakit,

“Sa, dengerin lagu ini baik-baik ya, mungkin ini yang terakhir kalinya aku bisa nyanyi buat kamu, jadi kalau mau ngrekam suaraku buruan deh.” Ujar Mario bercanda, namun terdengar sangat serius di telinga Alyssa.
“Ahh.. Mario apaan sih ? Aku ga suka kamu ngomong kayak gitu !” bentak Alyssa.
“Hehehe.. Ga papa kok, siap ya ?!”

Melihat tawamu, mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku, warna-warna indahmu
Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu, Anugrah terindah yang pernah kumiliki
Sifatmu nan slalu, redakan ambisiku
Tepiskan khilafku, dari bunga yang layu
Saat kau disisiku kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu, Anugrah terindah yang pernah kumiliki
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu, oo
Sifatmu nan slalu redakan ambisiku
Tepikan khilafku dari bunga yang layu
Saat kau di sisiku, kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu, Anugrah terindah yang pernah kumiliki

“Kamu itu anugrah terindahku, Sa. Sahabat terbaikku, saudaraku, segalanya deh .. Makasih ya, udah jadi bintangku.” Mario mengungkapkan perasaannya.
“Mario .. kamu apaan sih ? kok jadi mellow gini?”
“Gapapa pengen aja, aku kan belum pernah ngungkapin semua buat kamu.” Kata Mario gombal.
“Oh ya, ini aku gambar kamu.” Kata Mario seraya memberikan gambar itu yang sejak tadi disembunyikan.
“Wahh .. bagus ! Kapan kamu gambarnya ?” Tanya Alyssa berdecak kagum
“Waktu kamu lagi sibuk buat kotak pensil itu, aku iseng-iseng gambar kamu, hhe.” Jelas Mario.
“Iya, makasih banyak ya gambar dan lagunya .. Kamu juga udah jadi sahabat, saudara, teman, sagalanya yang terindah kok buat hidup aku. Tanpa gambar dan lagu ini aja, tanpa kamu ucap terima kasih pun aku tetep sayang sama kamu, karena kamu udah buat banyak warna dalam hidupku.” Alyssa tersenyum manis sekali.

Beberapa saat mereka saling terdiam

“Sa, minta tolong ambilin air putih donk, haus nih abis nyanyi.” Pinta Mario
“Bentar ya.” Ujar Alyssa
Di saat Alyssa mengambil air putih itu, Mario sempat menulis “Mario dan Alyssa sahabat selamanya”. Lalu ia merasa pandangannya berkunang-kunang dan tak sadarkan diri. Alyssa yang baru datang langsung kaget dan memberitahukan pada dokter.

Setelah beberapa menit Alyssa mondar-mandir, dokter keluar dari ruang UGD.
“Bagaimana keadaan Mario, dok ?” tanya Alyssa tak sabar.
“Ada keluarganya ?” tanya dokter.
“Saya perwakilan keluarganya, Dok !” Alyssa sudah benar-benar tak sabar.
“Maaf dek, kami sudah berusaha, namun ia ..” kata-kata dokter terpotong.
“Dokter, saya ga butuh candaan dokter sekarang !” Alyssa sedikit membentak.
“Saya sedang tidak bercanda, saya serius, kami sudah berusaha untuk mengembalikan kondisi Mario, namun Tuhan berkehendak lain, Mario terlalu sayang Mario.” ujar dokter selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaan Alyssa.
“Maksud dokter ?” tanya Alyssa ragu-ragu.
“Mario telah tiada.” jawab dokter takkuasa menatap mata Alyssa.
“Nggaaaakkk, dok !! Mario ga mungkin ninggalin aku.” Alyssa menangis sejadinya, tak percaya.
Alyssa sungguh sangat kehilangan Mario, sosok sahabat, kakak, yang sangat disayanginya. Ia tidak percaya akan keadaan ini. 3 hari ia tak keluar kamar, ia sangat terpukul. Hingga pada malam ketiga Alyssa yang sedang kalut melihat Mario dengan kedaan baju serba putih. Hal it terlihat sangat nyata namun sangat melampaui batas nyata.
“Sa, maaf ya.. Aku tingalin kamu dulu. Rekaman, gambar, dan tulisan itu khusus aku persembahin buat kamu, kenang-kenangan dari aku. Simpan ya . Makasih uda buat terang hidupku, aku akan tetap menganggapmu sahabat terbaikku. Ikhlasin aku, biar aku tenang, jangan nangis lagi. Kalau kamu kangen, putar aja rekaman suara itu. Aku akan tetep sayang kamu.” Kata bayangan itu sambil tersenyum.

“Mario ..!” suara Alyssa tercekat.
Alyssa yang masih tak kuat dengan semuanya tak kuasa menahan tangis.

“Mungkin aku ga akan bisa lupain kamu, Yo. Karena kamu selalu ada di hatik dan fikiranku. Mungkin aku akan menangis setiap aku ingat kenangan kita. Tapi aku janji, detik ini, besok, dan selamanya, senyumku kupersembahkan untukmu, Mario, sahabat terbaikku.!!” Janji Alyssa.
___________________________________________________________________________

“Sa, ayo makan dulu, nak !!” panggil Bunda Wiwin membuyarkan lamunannya.
“Iya, Bu.” Setelah menyeka air matanya, Alyssa segera memenuhi panggilan itu.
“Sayang, kenapa ? Kamu nangis lagi ?” tanya Bunda Wiwin melihat mata Alyssa yang merah.
“Gapapa, bu ..aku Cuma inget Mario.” Kata Alyssa sembil tersenyum, walau saat itu terasa berat.
‘Sa, Mario udah tenang disana. Kan kamu udah janji selalu tersenyum buat dia. Dia pasti lebih senang liat kamu tersenyum.” Ingat Bu Wiwin.
“Iya bu, tapi Alyssa ga kuat kalo inget semua tentang kita. udah ah bu .. Kok malah sedih-sedihan, makan dulu yuk !!” ajak Alyssa yang sadar dirinya sedikit menghambat makan malam saat itu.


- TAMAT -